Header Ads

Analisa Fundamental PT. Waskita Beton Precast, Tbk.


Kemarin kita sudah membahas Analisa Fundamental WSKT. Sekarang kita akan membahas anak perusahaan dari WSKT yang baru saja IPO tahun lalu, yaitu PT. Waskita Beton Precast, Tbk. (WSBP). WSBP sebagai anak perusahaan dari WSKT ibarat anak kesayangan, karena WSBP memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan WSKT.

Perlu diketahui bahwa saham - saham IPO seperti WSBP ini tidak memiliki data yang cukup untuk dianalisa karena data yang tersedia tidak sampai 5 tahun ke belakang, paling hanya 1 atau maksimal 3 tahun. Jadi agak sulit untuk mengambil kesimpulan apakah saham yang baru IPO memiliki kinerja yang bagus atau tidak. Melihat kinerja perusahaan sebaiknya dilihat dari data 10 tahun atau paling tidak 5 tahun ke belakang. Data WSBP yang saya analisa ini hanya data di tahun 2015 dan 2016 serta sedikit penjelasan tentang perkembangannya di semester pertama tahun 2017.

Untuk infomasi lengkap mengenai WSBP silahkan kunjung Website WSBP.


Model bisnis : produsen beton pracetak/precast dan siap campur/ready mix
Kita tahu bahwa model bisnis konstruksi bangunan ini adalah bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan besar. Dan kemarin sudah dibahas soal model bisnis WSKT yang merupakan induk perusahaan dari WSBP. Selain keuntungan yang besar, mereka juga memiliki permasalahan soal pendanaan yang tersendat. Tentunya WSPB sebagai penyokong bisnis dari WSKT juga ikut mengalami persoalan yang sama.

Proyek - proyek yang dikerjakan oleh WSKT itu kebanyakan menggunakan beton dan WSBP ini menjadi penyokong kebutuhan beton pracetak untuk proyek - proyek yang dikerjakan WSKT. Berarti bisa dibilang kelangsungan bisnis WSBP itu tergantung seberapa banyak proyek yang dikerjakan WSKT. Dan kita tahu bahwa WSKT sedang banyak mendapatkan proyek pembangunan dari pemerintah dan ini juga menguntungkan WSBP. Selain keuntungan yang didapat, persoalan yang dihadapi WSKT juga ikut dihadapi oleh WSBP. Jika WSKT tidak bisa menyelesaikan masalah pendanaan, maka arus kas yang masuk ke WSBP juga tersendat.


Kalo dilihat dari produknya sendiri, beton pracetak ini adalah sebuah produk yang lebih bagus dari beton biasa, karena proses konstruksi akan lebih cepat selesai dengan menggunakan beton pracetak. Dan beton pracetak ini masih belum banyak digunakan di Indonesia, dan ke depannya beton pracetak ini akan lebih banyak lagi digunakan pada konstruksi bangunan di Indonesia. Ini menjadi hal yang bagus untuk WSBP, ke depannya potensi pertumbuhan WSBP akan sangat bagus.

WSBP juga memiliki posisi yang kuat dalam persaingan di bisnis beton pracetak. Kapasitas produksi WSBP tiap tahun selalu meningkat dan pada Desember 2016 kapasitas produksinya sudah mencapai 2,65 juta ton per tahun. Dan sekarang kapasitas produksi masih terus ditambah. Tentunya ini menjadi hal yang bagus, mengingat pembangunan yang ke depannya akan semakin membutuhkan beton pracetak, posisi WSBP akan semakin kuat dalam industri ini.

Manajemen
Yang menarik tentang manajemen perusahaan WSBP adalah manajemen memiliki saham WSBP. Jajaran Komisaris dan Direksi WSBP mempunyai kepemilikan saham WSBP. Berdasarkan data dari Laporan Tahunan 2016 WSBP, seperti ini jumlah kepemilikan saham oleh Direksi dan Komisaris WSBP.


Dan berdasarkan data Laporan Bulanan Perubahan Struktur Pemegang Saham WSBP tanggal 31 Agustus 2017, seperti ini.


Bisa dilihat dari data di atas, Komisaris WSBP, Bapak Agus Sugiono memiliki jumlah saham yang cukup banyak. 15,8 juta lembar saham jika dikali dengan harga saham sekitar Rp. 450,- per saham (saya tidak tahu pasti beliau beli di harga berapa) berarti sekitar 7 miliyar Rupiah Pak Agus Sugiono berinvestasi pada perusahaannya sendiri. Ini jumlah yang besar untuk sebuah investasi, dan tentunya jumlah investasi sebesar itu bukan sebuah investasi yang asal - asalan, keputusan investasi yang beliau buat tentu berdasarkan pemikiran dan analisa yang mendalam.

Selain Direksi dan Komisaris WSBP, Direktur Utama WSKT, M. Choliq juga memilki saham WSBP. Seperti yang diberitakan oleh Bisnis.com (21/6/2017), M. Choliq menambah kepemilikan sahamnya di WSBP menjadi 31,5 juta lembar saham. Ini juga kepemilikan yang besar, dua kali lipat dari Pak Agus Sugiono.

Dengan manajemen memiliki saham perusahaannya sendiri, artinya mereka memiliki keyakinan yang tinggi terhadap perusahaannya. Mereka pun cenderung mempunyai tanggung jawab yang lebih dan mengeluarkan usaha lebih karena mereka memiliki saham perusahaannya. Kalo mereka tidak bisa memajukan perusahaan, mereka sendiri yang rugi karena dampaknya juga kembali ke mereka sebagai pemegang saham perusahaannya sendiri. Mereka akan berusaha memajukan perusahaan dan sebagai hasilnya, mereka juga mendapatkan keuntungan dari saham yang mereka miliki tersebut.


Lalu, bagaimana profil dari manajemen WSBP? Komisari Utama perusahaan, Tunggul Rajagukguk menjabat sejak tahun 2014 dan juga menjabat sebagai Direktur Keuangan WSKT sejak tahun 2011. Sebelumnya menjabat posisi manajemen tingkat atas di beberapa perusahaan. Beliau memiliki gelar Sarjana Teknik dan Magister Manajemen dari Universitas Indonesia. Direktur Utama, Jarot Subana menjabat sejak tahun 2016 dan merangkap sebagai Direktur Pemasaran. Sebelumnya menjabat sebagai Direktur Teknik dan Operasional (2013 - 2015), Kepala Divisi Precast Waskita (2013 - 2014), dan Kepala Bagian Pengendalian Divisi Sipil Waskita (2008 - 2013). Beliau memiliki gelar D3 UGM Jogja dan Sarjana Teknik Universitas Yos Sudarso Surabaya.

WSBP memiliki setifikasi OHSAS 18001:2007, rekomendasi SMK3 dari Kementrian Ketenagakerjaan, sertifikasi ISO 9001:2008, dan penghargaan Besti Mid Cap Equity Deal atas kesuksesan IPO di tahun 2016.

Kepemilikan saham oleh manajemen merupakan hal yang bagus, menandakan bahwa manajemen memiliki komitmen lebih besar untuk memajukan perusahaannya. Tetapi hal tersebut tidak bisa menjadi patokan utama dalam memilih saham. Karena bagaimana pun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Saat ini pun WSKT dan WSBP sedang mengalami persoalan pendanaan, entah itu masalah tersebut hanya sementara atau tidak, yang jelas kualitas manajemen bisa dilihat dari bagaimana mereka mengatasi persoalan tersebut. Analisa secara keseluruhan harus tetap diperhatikan agar keputusan investasi yang kita buat memang benar menguntungkan dan tidak membawa penyesalan di masa depan.

Kinerja perusahaan
Dan untuk melengkapi analisa sebelumnya, berikut adalah kinerja perusahaan yang dilihat dari laporan keuangan perusahaan. WSBP baru IPO tahun 2016, jadi data yang tersedia hanya tahun 2015 dan 2016.


Dari sisi pertumbuhan, kita belum bisa menilai apakah WSBP memiliki pertumbuhan yang bagus dan konsisten karena data keuangan yang tersedia tidak cukup. Untuk menilai hal ini, kita bisa lihat dari model bisnis dan manajemen perusahaan.

Dari sisi profitabilitas, bisa dilihat Marjin Laba Bersih WSBP lumayan tinggi sebesar 13,5%. Dan Laba dibanding Ekuitas perusahaan (ROE) WSBP pun juga cukup tinggi di atas 10%, namun tidak terlalu tinggi karena masih di bawah 20%. Tapi ROE sebesar 14,5% itu sudah lumayan memenuhi kriteria.


Dari sisi likuiditas, WSBP memiliki Aset Lancar dibanding Liabilitas Lancar (Rasio Lancar) yang cukup bagus sebesar 1,71, walaupun angka tersebut masih dibawah 2, tetapi itu masih dalam kondisi yang bagus. Rasio sejenis juga menunjukkan hal yang sama.

Dan dilihat dari hutangnya, WSBP memiliki Hutang dibanding Ekutas (DER) yang masih wajar di bawah 1, sebesar 0,85 yang artinya Hutang perusahaan tidak lebih besar dari Modal/Ekuitas perusahaan.


Dilihat dari Arus Kas, WSBP terlihat memiliki Arus Kas Operasi yang negatif. Ini persoalan utama yang dihadapi WSBP. Semoga saja masalah ini hanya sementara, kalo masalah pembayaran dari pemerintah atau pihak pelanggan yang lain tertunda dalam waktu yang lama, ini akan menyulitkan WSBP untuk berkembang.

Dari Arus Kas Pendanaan, WSBP terlihat menerima hutang dalam jumlah yang besar. Bertambahnya hutang perusahaan bisa menjadi leverage atau daya ungkit yang dapat membantu memajukan perusahaan. Tetapi juga hal tersebut bisa menjadi beban apabila perusahaan memiliki hutang yang berlebihan.

Perkembangan di tahun 2017
Pada semester awal tahun 2017, WSBP mengalami peningkata laba bersih yang jika disetahunkan, Laba per Saham (EPS) WSBP adalah sebesar Rp. 33,- per saham atau meningkat sebesar 37% dari EPS tahun lalu yang sebesar Rp. 24,- per saham. Marjin Laba Bersih meningkat menjadi 16,35% namun ROE turun menjadi 11,59%. Hutang perusahaan masih pada batas wajar sebesar 89% dari Ekuitas. Dan Rasio Lancar perusahaan terlihat membaik, Aset Lancar perusahaan meningkat menjadi 2 kali dari Liabilitas Lancar. Dari sisi Arus Kas, WSBP masih memiliki Arus Kas Operasi yang negatif. Bisa dibilang, kondisi keuangan WSBP cukup sehat, namun belum terlalu fit.

Pembagian dividen
WSBP pertama kali membagikan dividen untuk tahun buku 2016 sebesar Rp. 12,04 per saham atau sebesar 50% dari laba bersih. Dividen tersebut memiliki tingkat imbal hasil (dividen yield) sekitar 3% dari harga saham. Dividen yang dibagikan oleh WSBP termasuk tinggi, sama seperti WSKT, di tengah kebutuhan perusahaan dalam berekspansi, perusahaan justru membagikan dividen yang tinggi kepada pemegang saham.

Valuasi
Lalu mari kita lihat apakah harga saham WSBP termasuk undervalued atau overvalued.


Dengan metode DCF, menggunakan asumsi normal, WSBP di harga sekitar Rp. 380,- per saham berada pada harga wajarnya. Namun dengan menggunakan asumsi optimis, harga saham WSBP saat ini sedang terdiskon cukup bagus. Formula Graham juga menunjukkan bahwa harga saham WSBP masih murah, begitu juga dari Rasio Harga Saham dibanding Pertumbuhan perusahaan (PEG) menunjukkan angka 0,68 yang masih dibawah angka 1.

Lalu, dengan valuasi Clean Surplus, WSBP memiliki potensi pertumbuhan harga saham yang baik. Dengan asumsi normal, harga saham WSBP berpotensi naik 354% dalam 5 tahun, dan 725% dalam 10 tahun. Dan berpotensi menjadi saham tenbagger atau harganya naik 1000% dengan menggunakan asumsi optimis.

Rumus sakti
Dari perhitungan rumus sakti, WSBP terlihat kurang menarik. Earning's Yield hanya sebesar 6%, masih di bawah bunga deposito dan Return on Capital (ROC) sebesar 11,5%. WSBP termasuk dalam kelompok bawah dari peringkat berdasarkan rumus sakti dari saham - saham yang sudah saya analisa.

Kesimpulan
Jadi, kesimpulannya adalah sebagai berikut.

  1. Model bisnis prospektif dan mengungtungkan. Produknya bagus dan posisi kuat terhadap pesaing. Terintegrasi dengan WSKT sebagai induk usahanya.
  2. Kepemilikan saham oleh manajemen merupakan pertanda bagus namun bukan patokan utama. Memiliki sertifikasi dan penghargaan yang bagus.
  3. Profitabilitas cukup tinggi, hutang masih wajar, likuiditas cukup baik, kondisi arus kas yang masih negatif.
  4. Perusahaan membagikan dividen yang tinggi di tengah ekspansi perusahaan.
  5. Harga saham WSBP termasuk dalam kategori cukup murah.
  6. WSBP kurang menarik jika dilihat dari rumus sakti.
Cukup sekian artikel kali ini. Saran dari saya, sebaiknya segala berita dan informasi yang tersedia di berbagai sumber, harus kita pastikan dulu kebenarannya. Analisa siapapun, termasuk analisa dari saya juga jangan ditelan mentah - mentah. Sebagai investor cerdas, kita memiliki kemampuan unik masing - masing yang kita miliki dalam berinvestasi. Percayalah pada diri sendiri, bahkan jika semua orang berkata bahwa anda salah, belum tentu anda salah, bisa jadi justru anda yang benar. Lebih baik membuat keputusan berdasarkan pemikiran dan analisa sendiri, daripada bergantung pada pemikiran dan analisa orang lain.

Semoga bermanfaat. Silahkan isi kolom komentar di bawah atau hubungi kontak di pojok kanan atas jika ingin menyampaikan komentar.

Terima kasih.

No comments

Powered by Blogger.