Header Ads

7 (Tujuh) Tingkat Investor


Pada tulisan kali ini saya akan mengutip dan menyajikan kembali bab lima dari buku "The Cashflow Quadrant" karya Robert T. Kiyosaki yang membahas tentang tujuh tingkat investor. Beliau merevisi ini dari John Burley seorang investor real estate kawakan yang ia kagumi.


Ini penting untuk diketahui karena dengan mengetahui tujuh tingkat investor ini kita bisa mengidentifikasi berada pada tingkat manakah kita. Sehingga kita tidak merasa terlalu pesimis maupun optimis, melainkan menyadari seperti apakah diri kita, lalu mengambil langkah yang sesuai dengan kemampuan kita.

Sebenarnya mengidentifikasi ini harus bersama dengan identifikasi Cashflow Quadrant, berada di Quadrant manakah kita saat ini. Tetapi sepertinya akan sangat panjang jika membahas Cashflow Quadrant di sini. Mungkin lain kali saya akan membahas Cashflow Quadrant.

Berikut adalah tujuh tingkat investor. Mulai dari tingkat 0 sampai dengan tingkat 6.

Tingkat 0: Mereka yang tidak mempunyai modal untuk diinvestasikan
Tidak punya modal bukan berarti dia seorang miskin yang hanya mempunyai sedikit pendapatan. Orang yang tidak punya modal di sini juga termasuk orang kaya yang menghabiskan seluruh atau melebihi apa yang diperolehnya. Intinya, pada tingkat ini seseorang belum menyadari atau bahkan buta tentang mengelola keuangan, dan buta sama sekali tentang investasi. Ini adalah kebiasaan hidup menghamburkan uang yang mencakup 50 persen populasi orang dewasa.

Tingkat 1: Peminjam
Pada tingkat ini, mereka sedikit melek investasi namun masih tidak tepat. Mereka mengumpulkan aset-aset yang kelihatan menarik padahal aset-aset tersebut mengalami depresiasi seperti mobil, motor, perahu, atau bahkan tas branded puluhan juta. Bukan aset yang mengalami pertumbuhan nilai. Justru itu menjadi beban. Apalagi mereka membeli semua aset itu dengan cara berhutang. Mereka menyelesaikan semua masalah, membeli kebutuhan atau sekedar memuaskan keinginan dengan berhutang. Orang-orang ini terlihat kaya dan dipuji oleh orang yang ada di sekitarnya. Padahal semua yang mereka miliki adalah hutang.

Bukan berarti mereka adalah orang yang berpenghasilan sedikit lalu terpaksa berhutang. Namun memang seperti itu kebiasaan mereka. Mereka senang berhutang untuk membeli barang-barang yang tidak penting. Sebanyak apapun pendapatan mereka, mereka tidak akan merasa cukup karena mereka selalu merasa bahwa mereka akan mampu membayar hutang mereka dan tidak menyadari bahwa hutang mereka sudah menumpuk sekian banyak beserta bunga yang begitu besar. Mereka membeli mobil secara kredit. Dan ketika tidak sanggup membayar, mereka meminjam uang dari Budi untuk membayar cicilan mobil. Lalu mereka meminjam uang dari Tono untuk membayar hutang kepada Budi, Meminjam uang dari Reni untuk membayar hutang kepada Tono. Meminjam uang dari Bank untuk membayar cicilan mobil dan membayar hutang kepada Reni. Begitu seterusnya tanpa habis. Alias gali lubang tutup lubang.

Tingkat 2: Penabung
Orang-orang pada tingkat ini sedikit lebih baik dari tingkat sebelumnya. Atau bisa dibilang mereka kebalikan dari investor Tingkat 1. Mereka lebih memilih untuk membayar kontan daripada harus berhutang. Mereka rajin menyisihkan sebagian pendapatan mereka dalam penyimpanan dengan risiko kecil seperti celengan, rekening bank, atau deposito.


Mereka rutin menabung dan berharap bisa membeli apa yang mereka inginkan di masa depan. Tapi sayangnya tabungan mereka tidak bisa mengalahkan inflasi. Mereka berharap dapat mengumpulkan uang sampai 200 juta untuk membeli mobil 5 atau 10 tahun lagi. Tetapi harga mobil pada 5 atau 10 tahun yang akan datang harganya bukan 200 juta lagi, bisa jadi 300 juta, 400 juta, atau bisa lebih mahal lagi.

Sebagai contoh, di usia 30 tahun. Jika mereka secara rutin menyisihkan uang Rp. 1 juta di tabungan dengan bunga 2,5%. Pada usia 40 tahun uang mereka akan menjadi Rp. 146 juta. Jika mereka menaruh uang tersebut di deposito dengan bunga 6,5%. Maka uang mereka akan menjadi Rp. 179 juta. Tapi, jika mereka menaruh uang tersebut dengan berinvestasi saham atau reksadana dengan imbal hasil rata-rata per tahun 16%. Maka uang mereka akan menjadi Rp. 300 juta.

Namun jika memang tidak tertarik untuk belajar berinvestasi. Memilih untuk menjadi penabung lebih baik daripada menjadi peminjam.

Tingkat 3: Investor "Pandai"
Pada tingkat ini ada tiga jenis investor yang berbeda. Pada umumnya mereka adalah orang-orang pandai yang berpendidikan tinggi. Mereka adalah kelas menengah yang berpenghasilan besar. Dan mereka juga melakukan investasi. Namun ada perbedaan.
  • Tingkat 3-A. Orang ini adalah orang yang tidak mau repot memikirkan uang. Mereka menyerahkan uangnya begitu saja pada program pensiun. Mereka tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Bekerja keras tiap hari namun tidak mau memikirkan masa depan finansial mereka.
  • Tingkat 3-B. Orang ini adalah orang sinis. Mereka mengetahui bahwa investasi itu berbahaya. Mereka seolah-olah terlihat pintar dalam menjelaskan tentang investasi dan menyebarkan ketakutan kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka hanyalah penonton yang hanya membicarakan soal investasi tetapi tidak mau atau terlalu takut ikut bermain langsung. Mereka disebut "babi" oleh pialang professional. Berbicara seolah-olah mereka jenius, setelah menjerit-jerit mereka sendiri lari menghampiri tukang jagal. Mereka menunggu sampai harga sudah terlalu tinggi, lalu menjual dengan panik ketika harga sudah turun drastis. Mereka tahu mengapa investasi tidak bisa berhasil, tetapi tidak tahu bagaimana caranya supaya berhasil.
  • Tingkat 3-C. Orang ini juga disebut "babi" oleh pialang professinal. Bedanya, kalo kelompok sinis terlalu berhati-hati, maka kelompok ini terlalu sembarangan. Mereka menganggap investasi adalah judi. Berinvestasi tanpa aturan dan prinsip. Mereka seolah-olah merasa mereka adalah investor professional dan berpengalaman. Menggunakan segala macam teknik seperti margin, short selling, put, call, option, dan semacamnya. Mereka masuk segala macam sektor dan segala macam jenis investasi. Tidak ingin belajar dan sudah merasa pintar. Mereka bilang bahwa mereka memiliki keuntungan di atas rata-rata. Padahal nyatanya mereka kehilangan uang. Merasa pintar padahal mereka hanyalah penjudi dan kenyataannya mereka malas belajar investasi.

Ada kutipan dari George Bernard Shaw "Hati-hati dengan ilmu yang salah, itu lebih berbahaya daripada kebodohan". Dari 3 jenis investor di tingkat 3 tersebut. Masih lebih baik menjadi kelompok penabung saja. Tetapi jauh lebih baik lagi menjadi kelompok investor tingkat selanjutnya.

Tingkat 4: Investor Jangka Panjang
Nah, di tingkat ini adalah orang-orang yang berbeda dengan tingkat-tingkat sebelumnya. Minimal kita harus masuk kelompok ini. Kelompok ini sadar akan pentingnya berinvestasi. Mereka ingin belajar investasi. Mereka pandai namun tidak sinis dan juga tidak sok pintar. Paham dengan posisi mereka sekarang. Mereka tidak ingin mengambil risiko yang berbahaya dan berfokus pada profesi dan pekerjaan utama mereka.


Pilihan investasinya yaitu pada reksa dana saham, reksa dana campuran, atau reksa dana indeks. Sambil belajar terus menerus, mereka berinvestasi sedikit demi sedikit. Dengan risiko yang kecil namun mendapatkan imbal hasil yang lumayan. Atau bisa juga memulai berinvestasi saham langsung dengan prinsip jangka panjang konservatif dan dengan ketat mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan oleh investor terkemuka seperti Benjamin Graham, Philip Fisher, Peter Lynch, dan Warren Buffett. Yang jelas, jika anda masih di tingkat 0 sampai 3, segeralah masuk ke tingkat ini. Apalagi yang masih muda. Karena jika berinvestasi secara teratur sejak dini, maka dapat dipastikan masa depan akan cerah.

Tingkat 5: Investor Canggih
Saya pribadi masih berusaha naik tingkat menjadi investor canggih. Saya masih berkutat membaca buku-buku investasi dan masih banyak yang harus saya pelajari. Kelompok di tingkat 5 ini sudah menemukan gaya tersendiri dalam berinvestasi. Tidak ragu dalam mengambil keputusan berinvestasi. Mereka adalah pemain lama yang awalnya masuk dalam tingkat 4. Memiliki pengalaman setidaknya 10 tahun. Dan sudah memiliki fondasi keuangan yang kuat serta fondasi ilmu pengetahuan yang juga kuat. Mereka sangat jauh berbeda dengan investor tingkat 0 sampai 3 yang pengeluarannya melebihi pendapatannya. Investor tingkat 5 justru memiliki pendapatan yang jauh lebih besar daripada pengeluarannya, sehingga hasil dari investasi mereka gunakan untuk berinvestasi kembali. Mereka selalu belajar dan selalu membaca setiap hari. Memiliki perencanaan dan strategi yang matang dalam berinvestasi. Secara aktif ikut ambil bagian dalam pengelolaan investasi mereka. Mereka tahu cara membuat uang bekerja untuk mereka.

Tingkat 6: Kapitalis
Ini adalah sebagian kecil orang yang memiliki sebagian besar harta di dunia. Mereka adalah orang-orang yang mengisi daftar teratas orang terkaya di dunia. Kemampuannya dalam mengelola uang dan berinvestasi sudah tidak diragukan lagi. Setiap keputusannya pasti menghasilkan keuntungan besar. Mereka sudah tidak memikirkan uang lagi. Tidak memikirkan uang bukan karena tidak peduli dengan uang, Tetapi karena kebutuhan mereka sudah sangat tercukupi.


Mereka sudah tidak perlu memikirkan diri sendiri dan justru fokus untuk membangun lingkungan sekitarnya. Mereka bukan hanya tahu cara membuat uang bekerja untuk mereka. Justru mereka tidak membutuhkan uang untuk menghasilkan uang. Mereka tetap menciptakan investasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membuat orang lain menjadi kaya, menciptakan lapangan pekerjaan, membangun sekolah, rumah sakit, dan berbagai hal lainnya.

Ada pepatah yang berkata "yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin". Dan mungkin ada orang yang sinis dengan orang kaya yang terlihat hidup mewah dan hidup enak. Kelompok ini justru tidak terlihat kaya dan cenderung hidup sederhana. Mereka hidup sederhana karena mereka sangat paham dengan prinsip mengelola keuangan. Karena mereka sudah merasakan bagaimana hidup susah, Sehingga yang mereka lakukan bukan memikirkan diri sendiri, melainkan membangun dan memajukan lingkungannya. Mereka adalah miliyarder dan triliyuner dermawan dan filantropis sejati. Seperti padi yang "semakin berisi, semakin menunduk". Kelompok ini kurang lebih sama seperti itu. Mereka semakin kaya namun semakin rendah hati. Dan semakin memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

Itulah tujuh tingkat investor. Silahkan identifikasi diri anda masing-masing ada pada tingkat mana. Saya pribadi merasa kalo saya ada di tingkat 4 dan berusaha menjadi investor tingkat 5. Saya bercita-cita untuk menjadi investor tingkat 6. Dan tentunya saya menghindari untuk menjadi investor tingkat 0 sampai 3.

Sekian tulisan kali ini. Semoga dengan mengetahui tujuh tingkat investor ini dapat membuat kita menyadari diri dan terus menerus belajar hingga bisa menjadi investor sukses.

Semoga sukses dan berkah.

Terima kasih.

No comments

Powered by Blogger.