Header Ads

Bagaimana Cara Mengukur Kinerja Portofolio?


Pada tulisan kali ini saya ingin menulis tentang kinerja portofolio saya. Tulisan sebelumnya membahas tentang portofolio saya. Nah sekarang pertanyaannya bagaimana sih kinerja portofolio saya?

Selama 4 bulan sejak saya buka rekening efek pada 10 Januari dan mulai berinvestasi. Saya bersyukur saya tidak pernah mengalami kerugian yang signifikan. Dan modal saya telah tumbuh 8% hingga sekarang. Mungkin ini beginner's luck karena saya mulai investasi ketika IHSG sedang bullish. Semoga saja ke depannya modal saya terus bertumbuh dan bertumbuh sehingga saya bisa mencapai apa yang saya cita-citakan.

Mengukur Kinerja Portofolio Seperti Manajer Investasi
Lalu bagaimana cara mengukur kinerja portofolio? di sini saya mengukur kinerja saya sama seperti Manajer Investasi Reksa Dana jenis open-ended. Yang artinya dana kelolaan bisa bertambah dan bisa berkurang tidak ada batasannya. Saya menghitung menggunakan Nilai Aset Bersih (NAB).

Dalam pengukuran ini ada 4 komponen :
  1. AUM (Asset Under Management) atau Dana Kelolaan, yaitu jumlah dana yang dikelola
  2. Deposit/Withdrawal, yaitu jumlah dana yang ditambah ke Dana Kelolaan atau ditarik dari Dana Kelolaan
  3. Unit Penyertaan, yaitu jumlah unit penyertaan untuk Dana Kelolaan. Ini mirip seperti jumlah lembar saham pada perusahaan
  4. NAV (Net Asset Value) atau NAB, yaitu nilai bersih Dana Kelolaan. AUM dibagi dengan Unit Penyertaan
Saya membuat jurnal investasi seperti ini.
  • Monitor portofolio.
  • Dan monitor kinerja portofolio.

Pada awalnya saya deposit Rp. 150.000,- pada tanggal 10 Januari 2017. Nah, pada umumnya Reksa Dana yang baru diluncurkan itu bernilai NAB Rp. 1.000,-. Untuk dana kelolaan awal yang saya miliki tersebut maka Unit Penyertaan yang saya miliki sebesar 150 Unit. Lalu AUM Rp. 150.000,- dibagi dengan 150 Unit Penyertaan, maka NAB saya sebesar Rp. 1.000,- per unit. Jadi, NAB saya sama seperti Reksa Dana yang baru diluncurkan.

Untuk selanjutnya, setiap dana yang masuk dan keluar dari Dana Kelolaan. Kita harus menyesuaikan dengan NAB pada hari saat dana masuk atau keluar. Seperti gambar di atas.
  1. Pada tanggal 16 Januari saya menambah dana (Deposit) sebesar Rp. 100.000,-. Di sini posisi NAB saya sedang turun menjadi Rp. 995,33 per unit. Menyesuaikan dengan jumlah modal (nilai saham ditambah dengan jumlah uang kas yang menganggur) pada hari itu.
  2. Ibarat Reksa Dana, saya membeli Unit Penyertaan dengan harga Rp. 995,33 per unit. Rp. 100.000,- dibagi dengan Rp. 995,33 sama dengan 100,46 unit. Saya membeli Reksa Dana yang saya kelola sendiri sejumlah 100,46 unit.
  3. Uang Rp. 100.000,-yang saya tambah ke Dana Kelolaan menambah unit penyertaan sejumlah 100,46 unit dan Unit Penyertaan menjadi 250,46 unit. 
  4. Dana Kelolaan bertambah menjadi Rp. 249.300,- dibagi dengan unit penyertaan sejumlah 250,46 unit sama dengan Rp. 995,33. Jadi, NAB tetap dan penambahan modal tidak mempengaruhi NAB.
Selanjutnya seperti itu terus ketika Deposit kita juga menambah jumlah Unit Penyertaan. Dan ketika Withdrawal kita mengurangi jumlah Unit Penyertaan. Sama seperti Reksa Dana, Manajer Investasi sebuah Reksa Dana setiap hari mengupdate nilai NAB Reksa Dana menyesuaikan dengan nilai saham pada hari itu ditambah dengan uang kas. Dan itu sudah dikurangi biaya lainnya. Makanya disebut Nilai Aset Bersih karena itu bersih memperhitungkan nilai saham, uang kas, dan biaya lainnya. Kalo Reksa Dana ini yang menghitung NAB tiap hari adalah Bank Kustodian. Lalu, Manajer Investasi mempubilkasikan. Dan masyarakat yang membeli Unit Penyertaan sebuah Reksa Dana itu membeli seharga NAB pada hari itu. Lalu, menjualnya lagi di masa depan ketika NAB Reksa Dana tersebut naik dan si pembeli Reksa Dana tadi mendapatkan untung.

*contoh NAV dari Reksa Dana diambil dari situs Indo Premier IPOT Fund https://indopremier.com/ipotfund/listreksadana.php

Nah, saya juga begitu dalam melihat kinerja portofolio saya. Sangat penting untuk kita membuat jurnal investasi karena kita tahu bagaimana kinerja portofolio kita. Ini untuk mengevaluasi dan mengingat apa saja kesalahan yang kita lakukan. Dan juga mengingat bagaimana keberhasilan kita sehingga bisa kita ingat cara-caranya. Dan untuk melihat seberapa besar modal pertumbuhan modal kita. Terkadang ada saham yang naik tinggi di porto kita, tetapi tidak terlalu mempengaruhi modal kita karena jumlahnya hanya sekian persen dari total modal. Makanya kita harus mengukur kinerja portofolio kita seperti Manajer Investasi sehingga ke depannya kita bisa mengembangkan kemampuan kita dalam berinvestasi.

Untuk ringkasnya, di bawah adalah grafik dan tabel pertumbuhan portofolio saya dibandingkan dengan IHSG selama 4 bulan dari bulan Januari 2017 sampai bulan April 2017.



Saya sempat untung 15% di saham SMSM tetapi tidak saya jual karena niatnya investasi jangka panjang. Tetapi akhirnya memutuskan untuk menjualnya dengan keuntungan hanya 8% untuk membeli LPCK. Lalu, LPCK ini sempat menjadi satu-satunya saham yang ada di porto saya. Harganya turun dan terus turun sampe akhirnya saya memutuskan untuk membeli lagi di harga bawah. Nah, akhirnya LPCK bangkit dan porto saya tumbuh lumayan tinggi. Saya menemukan saham bagus lainnya yaitu IBST dan CEKA. Sehingga saya memutuskan untuk menjual sebagian saham LPCK untuk membeli dua saham tersebut.


Ini memang masih awal perjalanan investasi saya dan mungkin saya belum mengalami "apes"-nya. Tetapi saya bersyukur ini adalah awal yang bagus dalam perjalanan investasi saya. Memonitor dan mengukur kinerja ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan investasi dan untuk terus menerus belajar. Karena seperti kata Benjamin Franklin pada gambar di atas yang artinya "investasi dalam pengetahuan membayar bunga (imbal hasil) yang terbaik". Sekarang saya mengukur kinerja seperti manajer investasi. Semoga suatu saat saya bisa menjadi manajer investasi sesungguhnya. Hehee.. Yang penting semoga saya bisa terus menerus belajar, meningkatkan kemampuan investasi dan meningkatkan pertumbuhan modal sehingga bisa mencapai cita-cita yang diinginkan.

UPDATE
berikut ada file worksheet untuk melihat kinerja portofolio. Mungkin masih banyak kekurangan karena ini saya bikin sendiri. Nanti kalau ada perbaikan akan saya update lagi.

Silahkan download di sini

Sekian tulisan kali ini. Mari kita terus belajar dan belajar. Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

6 comments:

  1. Gan, boleh minta worksheetnya utk belajar ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Anonim Saya tidak tahu apakah worksheet yang saya buat sudah benar sempurna apa belum. Tapi nanti saya update tulisan ini, saya upload worksheetnya ya.

      Delete
  2. Salam kenal , saya baru invest di stock. 4 bln ini dan lagi cari cara monitoring nya. Artikel ini sangat membantu, thanks. Tp kl mau shift masih agak kesulitan:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah mampir di blog saya. Saya juga masih baru 4 bulanan. Investasi sedikit-sedikit aja dulu sambil belajar baca buku yang banyak. Pokoknya perbanyak ilmu dulu. Nanti kalo sudah semakin yakin bisa coba investasi dengan usng yang lebih besar lagi. Semoga sukses investasinya ya..

      Delete
    2. Terima kasih utk worksheet nya. Porto history Dan current portfolio sedikit2 saya paham. Kl Porto plan apa yah?

      Delete
    3. Porto plan itu maksudnya rencana investasi. Misal modal masih terbatas dan pengen targetin beli saham apa aja. Atau misal punya rencana nabung di saham apa aja ditulis di porto plan. Misal mau itung2 beli berapa sahamnya, ngambil berapa persen dari total modal. Kalo current porto kan untuk memantau keadaan. Kalo porto plan untuk rencana dan hitung2an porsi. Kurang lebih seperti itu.

      Delete

Powered by Blogger.