Header Ads

Clean Surplus Accounting : metode efektif untuk melihat kinerja perusahaan

Di tulisan sebelumnya tentang Portofolio Saya. Saya menyebutkan tentang adanya penambahan ROE Clean Surplus dalam lembar kerja excel yang saya ambil dari Blog Parahita. Pada tulisan kali ini saya ingin membahas tentang Clean Surplus tersebut. Sebenarnya sudah lama saya ingin membahas Clean Surplus ini. Tapi masih harus saya pahami lagi.


Apa itu Clean Surplus Accounting? Kalo dari kata-katanya. Clean itu berarti bersih, jelas. Dan Surplus itu artinya lebih, dalam hal ini surplus atau laba perusahaan. Jadi, metode ini melihat laba perusahaan secara bersih. Secara bersih bagaimana? pada intinya si penulis, Dr. J. B. Farwell dalam bukunya "Buffet and Beyond" menjelaskan bahwa metode akuntansi tradisional yang berlaku tidak relevan untuk membandingkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas). Karena terdapat biaya-biaya lain yang tidak setiap tahun terjadi (non-recurring items). Jadi, si penulis menjelaskan sebuah metode yang lebih relevan untuk membandingkan profitabilitas perusahaan. Yaitu Clean Surplus Accounting. Metode ini membersihkan perhitungan dari item-item yang tidak berkaitan dengan operasional rutin perusahaan. Menghitung Return on Equity (ROE) hanya berdasarkan laba bersih setelah dikurangi item-item berulang (recurring items).

Mari kita lihat bagaimana menentukan ROE Clean Surplus ini. Saya akan menggunakan contoh dari laporan keuangan PT. Lippo Cikarang, Tbk. (LPCK) tahun 2016.

ROE Clean Surplus
Return on Equity adalah perbandingan antara laba bersih dibagi ekuitas/nilai buku perusahaan. Pertama. Pada bagian Return dari Return on Equity kita ambil laba bersih saja. Bukan laba komprehensif setelah pendapatan/pengeluaran lainnya pada laporan keuangan.


Kita buang Penghasilan Komprehensif Lain dan Total Laba Komprehensif dari perhitungan. hanya menggunakan Laba Tahun Berjalan saja. Atau jika ada, sebaiknya kita menggunakan Laba Tahun Berjalan yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk. Jadi, kita dapat angka Rp. 539.820 juta untuk bagian Return.

Selanjutnya, pada bagian Equity dari Return on Equity kita menggunakan Nilai Buku tahun lalu ditambah Laba Ditahan tahun lalu. Yaitu Total Aset dikurangi Total Liabilitas ditambah Laba Ditahan. Laba Ditahan ini diambil dari Laba Bersih Tahun berjalan seperti pada bagian menentukan Return, lalu dikurangi dividen.

Lebih spesifik lagi. Dalam menentukan Equity ini. Kita menggunakan Nilai Buku seawal mungkin sebagai dasar. Paling tidak 10 tahun yang lalu. Di sini saya menggunakan Nilai Buku LPCK tahun 2006 sebesar Rp. 447.564 juta. Lalu menghitung Nilai Buku tahun 2007 dengan menambahkan Nilai Buku 2006 sebesar Rp. 447.564 juta dengan Laba Ditahan tahun 2006 sebesar Rp. 3.270 juta (dari hasil Laba Bersih Rp. 3.270 juta dikurangi dividen Rp. 0). Hasilnya Nilai Buku tahun 2007 sebesar Rp. 450.834 juta. Lalu untuk nilai buku tahun 2008 didapat dari Nilai Buku tahun 2007 sebesar Rp. 450.834 juta ditambah dengan Laba Ditahan tahun 2007 sebesar Rp. 11.061 juta. Hasilnya Nilai Buku tahun 2008 sebesar Rp. 461.895 juta. Seperti itu terus untuk tahun-tahun berikutnya sampai ketemu Nilai Buku tahun 2016 sebesar Rp. 3.583 miliyar.

Jadi, ROE Clean Surplus untuk tahun 2016 yaitu Rp. 539.820 juta dibagi dengan Rp. 3.583 miliyar sama dengan 0.15 atau 15%.

Pilih perusahaan dengan ROE tinggi dan konsisten
Lebih lanjut Dr. J. B Farwel menjelaskan bahwa ROE yang dihitung berdasarkan Clean Surplus Accounting ini adalah rasio yang tepat untuk menggambarkan seberapa bagus dan efisien perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Semakin tinggi dan semakin konsisten ROE perusahaan menandakan kalo perusahaan tersebut memiliki kinerja yang bagus.

ROE Clean Surplus ini merupakan sebuah refleksi dari keseluruhan kinerja perusahaan. Bagaiman kinerja manajemen, seberapa efisien sistem produksi, distribusi, pemasaran, sumber daya manusia, dan lain-lain, semua tercermin dalam rasio ini.

Lalu, dalam buku tersebut dijelaskan juga bagaimana menghitung target harga di masa depan. Tentunya ini bukan target harga yang harus dan pasti tercapai. Hanya sebagai estimasi dan untuk memberikan Margin of Safety. Memastikan bahwa kita tidak membayar terlalu mahal untuk membeli sebuah saham. Seperti ini hasil perhitungan target harga LPCK berdasarkan ROE Clean Surplus di lembar kerja excel.

Dari mana angka target harga tersebut muncul? well, tentunya tidak ada yang tau dengan pasti kemana arah harga saham. Tetapi perhitungan target harga tersebut berdasarkan perhitungan dengan rata-rata ROE, rata-rata laba ditahan, dan rata-rata PER sebesar itu.

Pertama kita menentukan estimasi ekuitas dengan rumus seperti ini :

E10 = E0 x (1 + (ROE x RE))^10

E10 = estimasi ekuitas 10 tahun mendatang.
E0 = ekuitas sekarang
ROE = rata-rata ROE selama 10 tahun ke belakang
RE = rata-rata Laba Ditahan selama 10 tahun ke belakang
^10 = dipangkatkan 10 untuk menghitung 10 tahun ke depan. 5 untuk menghitung 5 tahun mendatang

Lalu menghitung estimasi EPS (Earning per Share) atau Laba per Saham dengan rumus seperti ini :

EPS10  = ROE x E10 / Saham

EPS10 = estimasi EPS 10 tahun mendatang
Saham = total jumlah saham beredar

Selanjutnya menghitung estimasi harga dengan rumus seperti ini :

H10 = EPS10 x PER

H10 = estimasi harga 10 tahun mendatang
PER = rata-rata PER (Price Earning Ratio) selama 10 tahun ke belakang

Maka didapatkan angka yang seperti pada gambar. Memang angka tersebut kelihatannya sangat besar dan sepertinya mustahil harga saham LPCK bisa mencapai harga setinggi itu. Tetapi itu adalah asumsi apabila LPCK di tahun-tahun mendatang berhasil menghasilkan ROE sebesar rata-rata 26,2%, laba ditahan 100% dan PER 9,8. Kita bisa menyesuaikan lagi angka-angka tersebut untuk perhitungan. Misal saya ganti, ROE 15%, laba ditahan 90%, dan PER 8. Maka target harga 5 tahun mejadi Rp. 11.637,- dan target harga 10 tahun menjadi Rp. 21.919,-.

Ini hanya sebagai pertimbangan saja dan bukan sebagai prediksi yang mutlak. Dan dengan catatan bahwa ROE di tahun-tahun sebelumnya haruslah konsisten. Semakin konsisten ROE maka semakin besar kemungkinan perusahaan menghasilkan ROE yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Selain dengan metode valuasi DCF, valuasi pada situs Stockbit, dan aspek fundamental lainnya. Ini adalah salah satu metode yang berpengaruh terhadap keputusan investasi saya. Saya memilih saham dengan Margin of Safety (MoS) yang cukup besar berdasarkan valuasi DCF dan valuasi Stockbit untuk menentukan keputusan akhir. Jika sebuah saham dengan metode Clean Surplus tersebut menghasilkan target harga yang tinggi, namun MoS nya minus, maka saya hindari dulu saham tersebut. Saya akan tunggu sampai harganya turun dan memberikan MoS yang cukup.

Seperti itulah metode Clean Surplus Accounting yang relevan untuk melihat kinerja perusahaan. Metode ini, menurut Dr. J. B Farwell, juga dipakai oleh Warren Buffet. Benjamin Graham dalam buku "The Intelligent Investor" juga menjelaskan bahwa dalam menghitung ROE kita harus mengabaikan item-item tidak berulang dan item khusus.

Yang jelas ini salah satu usaha untuk menangani risiko. Seperti pada gambar paling atas Warren Buffet mengatakan "Risiko datang dari tidak mengetahui apa yang sedang kita lakukan". Jangan sampai kita membeli saham tanpa memiliki pengetahun tentang perusahaan tersebut.

Cukup sekian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

No comments

Powered by Blogger.