Header Ads

Memilih Saham : Mulai dari mana?

Memilih saham adalah pekerjaan utama untuk investor. Karena keuntungan dan kerugian dalam berinvestasi saham itu ditentukan oleh investor itu sendiri. Bagaimana investor memilih saham dan mengelola keuangannya. Ini adalah "pekerjaan rumah" yang wajib dilakukan oleh investor.

Di tulisan ini mungkin tidak akan terlalu rumit membahas analisa yang mendalam untuk memilih saham. Tapi hanya sekedar hal-hal yang perlu diketahui dalam memilih saham. Banyak teori yang membahas analisa saham yang nanti juga akan saya bagikan di tulisan berikutnya. Terlebih dahulu saya akan menyampaikan apa hal penting yang harus diketahui dalam memilih saham.

Lakukan analisa anda sendiri

Ini hal yang terpenting yang harus diingat oleh para investor. Kita harus melakukan analisa kita sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan analisa dan rekomendasi orang lain. Bahkan analisa dan rekomendasi dari para analis profesional pun tidak bisa menjamin kita bisa mendapatkan keuntungan besar.

Bahkan Peter Lynch, penulis buku "One Up on Wall Street" juga menyarankan untuk tidak mendengarkan profesional. Katanya "Stop listening to the professionals". Berhentilah mendengarkan para profesional. Dan beliau menambahkan "This is investing, where the smart money isn’t so smart and the dumb money isn’t really as dumb as it thinks. Dumb money is only dumb when it listens to the smart money". Smart money alias orang yang sudah ahli dalam dunia investasi, kata Peter Lynch mereka tidak terlalu pintar. Dan Dumb money alias pemula yang baru masuk ke dunia investasi tidak terlalu bodoh seperti yang dipikirkan. Dumb money hanya bodoh ketika mereka mendengarkan Smart money. dan yang bilang begitu Smart money itu sendiri, Peter Lynch.

Pemula dalam dunia investasi (seperti saya) tidak perlu khawatir akan kesulitan dalam memilih saham. Tidak perlu pesimis jika kita belum mengetahui apa-apa tentang saham. Yang kita perlukan hanya kemauan untuk belajar. Selanjutnya kita terapkan hasil pembelajaran kita untuk menganalisa dan memilih saham. Apa yang harus kita dapatkan dari para ahli adalah pembelajarannya, cara mereka menganalisa saham. Bukan menerima dan percaya begitu saja rekomendasi dan Stock Pick hasil analisa mereka. Tentu kita percaya pada ahli yang sudah berpengalaman. Kita bisa belajar cara mereka dalam menganalisa. Bukan sekedar rekomendasi dan Stock Pick.

Jangan cuma beli baju, beli tokonya sekalian

Kita bisa mempertimbangkan memilih saham dari ibu atau pacar kita yang memilih pakaian ketika belanja. Bahkan mungkin kita bisa memilih saham dengan melihat anak kecil yang memilih jajanan atau mainan. Yang saya maksud di sini, kita juga bisa memilih perusahaan berdasarkan sudut pandang kita sebagai konsumen.


Kita langganan belanja di salah satu perusahaan ritel, kita nabung di bank, meminjam uang dari bank, membeli rumah dari sebuah developer perumahan, membeli mobil dan komponen mobil dari perusahaan otomotif, membeli semen dari produser semen, membeli gas dari perusahaan gas, membeli beras minyak goreng, bumbu penyedap, mie instan, dan lain sebagainya dari sebuah perusahaan. Lalu kalo kita senang produk sebuah perusahaan, kenapa ga sekalian beli perusahaannya? kadang kita juga denger, "jangankan beli baju, saya beli tokonya sekalian juga saya bisa". Nyatanya memang kita bisa membeli sekaligus perusahaannya. Jadi, kita bisa memilih perusahaan berdasarkan kepercayaan kita terhadap sebuah produk. Dan lebih meyakinkan memilih perusahaan yang sudah memiliki Brand yang bagus dibandingkan memilih perusahaan yang produknya kurang disenangi. Namun ini adalah langkah awal. Langkah awal yang bagus, dan selanjutnya kita cari tau lebih lanjut seperti apa bisnis dari perusahaan tersebut.

Beli perusahaan bukan hanya sekedar kode saham atau lembar saham

Suatu ketika seorang investor pemula bertanya kepada Warren Buffet, "apa yang harus saya lakukan agar bisa menjadi investor sukses seperti anda?". Buffet menjawab "kenalilah semua perusahaan yang ada di bursa". "tapi kan ada banyak sekali? ada ribuan perusahaan di bursa". "kalau begitu kamu mulai saja dari A".


Begitulah kata Warren Buffet. Kita harus mengetahui semua saham yang ada di bursa. Tidak hanya sekedar kode saham UNVR, TLKM, BBCA. Tetapi kita juga harus mengetahui perusahaan di balik kode saham tersebut. Bisnis yang dijalankan oleh perusahaan, bagaimana perusahaan menjalankan bisnisnya, bagaimana manajemen mengelola perusahaannya, bagaimana persaingan dalam bisnis tersebut, bagaimana track record perusahaan tersebut, posisi keuangannya, laporan keuangannya, rasio profitabilitas, solvabilitas, dan lain sebagainya. Ya paling tidak kita mengetahui perusahaan apa yang mau kita beli. Percaya sebuah produk juga menjadi langkah awal dalam memilih saham. Yang selanjutnya kita lakukan analisa lagi terhadap manajemen dan analisa dari laporan keuangannya.

Dengan membeli saham, berarti kita menjadi pemilik perusahaan tersebut walaupun hanya 0,001%. Apa yang terjadi di perusahaan akan berdampak kepada pemilik perusahaan. Jika kita hanya melihat kode saham, saham tersebut sedang naik, direkomendasikan oleh para ahli, dibicarakan oleh banyak investor, dan banyak yang membelinya dan kita langsung ikutan membeli tanpa tau apa dan bagaimana perusahaan yang ada di balik kode saham tersebut. Maka ketika harga saham tersebut turun, kita langsung panik dan menjual saham tersebut dan rugi. Atau lebih bahayanya lagi jika seseorang bilang harga saham ini bakalan naik lagi, lalu kita menahan saham tersebut, dan ternyata harganya makin turun dan kita rugi lebih banyak. Ini yang disebut panic buying dan panic selling. Membeli saham yang lagi hot dan trending. Lalu menjualnya dengan panik ketika harganya turun.

Lain halnya apabila kita sudah mengetahui latar belakang perusahaan, bagaimana manajemennya, analisa laporan keuangannya, megetahui rasio-rasio keuangannya, dan hal fundamental lainnya. Maka apapun yang terjadi dengan harga sahamnya, kita tidak akan panik dan langsung menjualnya begitu saja. Justru ketika harganya turun, itu adalah kesempatan untuk membeli lagi saham tersebut di harga yang sedang diskon. Lalu kapan menjual sahamnya? kata Warren Buffet "jangka waktu favorit saya dalam memegang saham adalah selamanya". Selama perusahaan itu kinerjanya bagus dan tidak pernah merugi atau bahkan tidak ada penurunan laba. Saham tersebut masih layak untuk kita pegang. Warren Buffet sampai sekarang masih memegang saham favoritnya yaitu Coca-Cola. Selama Coca-Cola masih digemari banyak orang, masih banyak yang membeli Coca-Cola. Kinerjanya bagus. Warren Buffet tetap memegang saham tersebut.

Jadi, Mulai dari mana?

Yang pertama itu yang sudah disebutkan tadi. Memilih perusahaan yang mempunyai Brand yang bagus. Kita sudah pernah memakai produknya dan percaya dengan produk tersebut. Yang kedua adalah melihat bagaimana manajemen mengelola bisnis tersebut, persaingannya, dan aspek lainnya. Secara garis besar kita bisa melihat seluk beluk perusahaan dari laporan tahunan perusahaan tersebut. Yang ketiga adalah posisi keuangan perusahaan, laba-rugi perusahaan, arus kas, dan lainnya. Informasi ini bisa kita dapatkan dari membaca laporan keuangan. Sederhananya, carilah perusahaan dengan Brand yang bagus, kualitas produk yang sudah teruji, manajemen yang bagus, jujur, dan transparan, tidak pernah merugi selama paling tidak 5 tahun terakhir, tidak memiliki hutang yang terlalu menumpuk, dan memiliki posisi keuangan yang kuat.


Itu saja dulu untuk tulisan kali ini. Kedepannya akan dibahas lebih lanjut mengenai analisa laporan keuangan dan tulisan mengenai memilih saham lainnya. Walaupun mungkin tidak banyak yang dibahas dalam tulisan kali ini. Tapi itu hal yang penting yang harus kita ingat.

O iya. Untuk info laporan tahunan, laporan keuangan ada di website masing-masing perusahaan. Untuk daftar perusahaan yang ada di BEI klik di sini

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

2 comments:

  1. Siapa tokoh favorit di dunia investasi mas? Kenapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tokoh favorit tentu slah Warren Buffet. Kalo di Indonesia ada Lo Kheng Hong. tokoh lainnya yang udah disebut di atas. Peter Lynch. Untuk analisanya cenderung memberatkan analisanya Dr. J. B. Farwell

      Delete

Powered by Blogger.