Header Ads

Daripada Buang Duit, Lebih Baik Berinvestasi


"Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya"
"Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"

Itu adalah kata pepatah yang kita pelajari di bangku Sekolah Dasar. Mungkin kata-kata tersebut terdengar kuno dan basi. Tetapi sebenarnya itu adalah sebuah prinsip yang tidak bisa kita anggap remeh. Dan kebanyakan dari kita tidak menghiraukan kata tersebut. Akibatnya, tidak sedikit orang - terutama anak muda - menghaburkan uangnya untuk berfoya-foya (Hedonisme), tidak mau bersakit dahulu, berjuang dan prihatin dahulu, maunya bersenang-senang saja. Tidak memegang prinsip "Hemat pangkat kaya" malah "Besar pasak daripada tiang".

Sebagai anak muda, kita harus menyadari bahwa kita harus prihatin dan tidak memboroskan uang yang diberikan oleh orang tua. Saya mulai belajar tentang investasi sejak saya baca buku "Cashflow Quadrant" karya Robert T. Kiyosaki. Buku itu memberikan pemahaman tentang betapa pentingnya mengelola keuangan dan investasi, atau yang disebut dengan Financial Literacy atau melek keuangan. Pelajaran tentang keuangan yang seharusnya diajarkan sejak di Sekolah Dasar. Karena dengan melek keuangan, kita dapat menjaga keuangan kita, menjaga pengeluaran, dan menyisihkan uang untuk investasi. Dan juga bagaimana cara untuk menggapai Financial Freedom atau kebebasan keuangan, terbebas dari hutang dan mendapatkan penghasilan pasif.

Buku itu juga menjelaskan tentang 7 tingkat investor, mulai dari tingkat 0: tidak punya modal untuk investasi karena menghabiskan sebanyak, atau lebih banyak daripada yang mereka dapat. Tingkat 1: peminjam, orang-orang yang terlalu banyak berhutang, dan berhutang untuk membayar hutang, gali lubang tutup lubang. Sampai tingkat 6: Kapitalis, yaitu orang-orang terkaya dan berpengaruh di dunia yang tidak memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang, mereka berfikir untuk kesejahteraan orang banyak, dan mereka banyak berkontribusi pada negara dan orang-orang yang membutuhkan.

Dari buku tersebut kita pahami bahwa kita harus melek keuangan. Kita pahami bahwa sebelum kita bersenang-senang, kita harus bersusah payah terlebih dahulu. Kita harus berhemat dan hidup prihatin. Daripada uang yang kita pakai dihabiskan untuk sekedar hangout alias nongkrong, ngopi, jajan, belanja berlebihan, dan dipakai untuk sekedar memenuhi hasrat kesenangan sesaat. Uang tersebut bisa kita gunakan untuk investasi. Dengan berinvestasi, walaupun sedikit, uang tersebut bisa kita gunakan untuk membeli rumah, mobil, atau tujuan yang lebih besar lainnya. Dan juga dari investasi tersebut, kita bisa menikmati pendapatan pasif di hari tua. Tidak perlu susah payah kerja di hari tua, tinggal menikmati hasil investasi.

Kita hanya perlu mengubah kebiasaan kita dalam menghabiskan uang, mengganti kebiasaan menghabiskan uang untuk berfoya-foya dengan menabung uang untuk berinvestasi.

Sebagai contoh, kita bisa mengganti uang untuk ngopi di Starbaks sebesar Rp. 20.000 - Rp. 50.000, jika sebulan kita ngopi di Starbaks sebanyak 10 kali, maka kita menghabiskan uang Rp. 200.000 - Rp. 500.000. Uang itu bisa kita gunakan untuk investasi reksa dana, atau saham. Minimal dana untuk investasi saham atau reksa dana Rp. 100.000. Hanya dengan mengganti uang ngopi si starbaks saja kita bisa berinvestasi sebesar itu. Dan dengan imbal hasil 15% per tahun. Jika sekarang umur kita 21 tahun, dan tiap bulan kita rutin berinvestasi sebesar Rp. 200.000. Maka pada umur 30 tahun uangnya menjadi Rp. 48.728.924. Atau jika investasi Rp. 500.000 per bulan, hasilnya akan menjadi Rp. 121.822.309 pada umur 30 tahun. Dan untuk jangka waktu yang lebih panjang, pada umur 50 uangnya menjadi Rp. 1.043.388.351 dari Rp 200.000 per bulan. Dan menjadi Rp. 2.608.470.878 dari Rp. 500.000 per bulan.


Seperti itulah gambarannya. Hanya dengan menyisihkan sedikit uang jajan untuk berinvestasi, hasilnya cukup fantastis. Apalagi jika kita berinvestasi dengan modal yang lebih banyak lagi, maka hasilnya akan memuaskan. Dengan catatan, uang yang sudah diinvestasikan adalah uang yang tidak akan kita ambil dalam jangka waktu yang kita inginkan, misal 10, 20 atau 30 tahun. Tergantung tujuan kita berinvestasi.


Jadi, apakah anda lebih tertarik untuk jajan Rp. 200.000 per bulan? atau lebih tertarik menggunakan uang itu untuk berinvestasi? tentu investasi lebih menarik daripada hanya sekedar jajan. Hasil dari investasi bisa kita gunakan untuk jajan lebih banyak lagi, hehe..


Silahkan klik artikel di sini untuk mengetahui cara memulai berinvestasi saham

Nah tunggu apa lagi? Sekarang Waktunya! Yuk Nabung Saham!

2 comments:

  1. Bagus mas👍
    Tapi gimana kalo kota ga bisa konsisten mempertahankan nominal duit buat nambah saldo sahamnya?

    ReplyDelete
  2. Ya justru itu tantangannya. Harus direncanakn dengan baik dan disiplin dengan rencana yang sudah dibuat. Kita kan seringnya ga disiplin dalam menggunakan uang, kadang mata kita tertarik dengan sesuatu, lalu langsung membelinya. Itulah kebiasaan yang harus kita ubah.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.